Rumah Kelahiran Bung Karno Ada Di Surabaya


Rumah Kelahiran Bung Karno

Rumah Kelahiran Bung Karno


Ternyata rumah kelahiran Bung Karno, atau Presiden RI pertama pak Soekarno berada di Surabaya, tepatnya di kampung Pandean gg IV, no ; 40. Bukan di kota blitar, seperti selama ini kita pelajari dari buku sejarah.

Setelah dilakukan kajian buku-buku sejarah dan penelitian di negara belanda yang dilakukan oleh The Soekarno Institute, disimpulkan ; Pak Karno lahir di Kota Surabaya.

Perwakilan keluarga Bung Karno yang hadir di peresmian Rumah Kelahiran Bung Karno, Prof. Haryono Sigit, mengakui bahwa orang tua Bung Karno perna tinggal di rumah tersebut. 

Bambang DH atas Pemerintah Kota Surabaya telah mengirim surat ke pemerintah pusat untuk meluruskan persoalan tempat kelahiran Presiden Pertama RI.

Senin tanggal 6-6-2011, Rumah di kampung  pandean secara resmi sebagai tempat kelahiran Bung Karno. Diresmikan oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Pada acara peresmian dihadiri Peter A Rohi, Direktur The Soekarno Institute, Prof. Haryono Sigit perwakilan keluarga Bung Karno, Bambang Sulistomo Putra Bung Tomo, Anggota DPRD Surabaya, Pejabat Pemkot serta ratusan warga surabaya.

Peresmian ditandai dengan pembukaan selubung prasasti oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Prasasti ini menyebutkan dikampung pandean terdapat rumah kelahiran bung karno. Ditanda tangani oleh Walikota Surabaya sebelumnya Bambang DH di tahun 2010.

Rumah Kelahiran Bung Karno dan masa kanak-kanak ditetap sebagai bangunan cagar budaya sesuai SK Wali kota Surabaya No.188.45/321/436.12/2013.

Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya

Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya

Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya

Jalan Bubutan VI/2, Surabaya

Plakat Cagar Budaya Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya

Plakat Cagar Budaya Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya

Kampung bubutan pada abad 18 dan  abad 19 merupakan setra pergerakan Islam dan kampung NU, namun sekarang ini penghuninya didominasi warga tionghoa. Di jalan bubutan VI/ 2 inilah berdiri bangunan cagar budaya. Rumah bercat hijau ini berlantai dua memiliki kaitan antara peristiwa pertempuran 10 nopember dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Di dalam bangunan cagar budaya ini tersimpan 20 foto bersejarah yang terkait dengan peristiwa pertempuran 10 nopember, termasuk di dalamnya foto resolusi jihad dari naskah asli Resolusi jihad yang tersimpan di museum Leiden, Belanda.

Baca juga “Monumen Resolusi Jihad

Berikut ini sejarah Gedung cagar budaya ini; Diawali  tahun 1926, yaitu tatkala NU berdiri, gedung ini telah dijadikan sebagai kantor pengurus besar (Hof Bestuur) NU.

Pada tahun 1935 gedung ini diselenggarakan konfrensi Ansoru Nahdlatul Ulama (Pemuda Anshor NU).

Pada masa revolusi di gedung ini dicetuskan resolusi jihad Nahdlatul Ulama (NU) pada tanggal 22 oktober 1945. Resolusi tersebut berisi keputusan yang mewajibkan setiap muslim, terutama laki-laki yang tinggal di radius 94 kilometer   untuk bertempur mempertahankan dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari penjajahan  Belanda menurut hukum Islam.

Berdasarkan sejarahnya tersebut bangunan tersebut ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Bangunan cagar budaya sesuai Surat Keputusan (SK) Walikota Surabaya no.188.45/502/436.1.2/2013.

Stasiun Semut

Stasiun Semut

Stasiun Semut

Jalan Stasiun Kota no 9, Surabaya

Stasiun semut atau juga disebut dengan Stasiun Surabaya Kota, terletak di bongkaran, kecamatan  Pabean Cantikan , Surabaya Utara.

Stasiun semut merupakan pionir perkembangan stasiun di jawa, bahkan di Indonesia.

Pada awalnya stasiun ini dibangun untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari daerah pedalaman jawa timur menuju ke belanda.

Kemudian berkembang, era tahun 1940-an mulailah banyak kereta penumpang dengan rute jakarta-surabaya. Pemerintah belanda mulai membangun stasiun-stasiun dari jogya hingga bandung.

Stasiun kereta api ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan surat keputusan wali kota surabaya nomor 188.45/251/402.1.042/1996, pada tanggal 26 september 1996.

Peta Stasiun Ssemut

Menengok Bangunan Tua dan Bersejarah di Jalan Rajawali

Di jaman pemerintahan hindia belanda jalan ini bernama Heerenstraat, kalau sekarang bernama jalan rajawali. Jalan ini merupakan salah satu jalan utama baik di jaman pemerintahan hindia belanda, maupun sekarang ini. Pada tahun 1905 Pusat kota surabaya terletak di jalan ini, di sini pusat perdagangan dan pusat pemerintahan. Tidak mengherankan di jalan rajawali banyak berdiri bangunan-bangunan tua yang berfungsi sebagai perkantoran.

Mari kita menengok bangunan tua dan bersejarah di jalan rajawali:

  1. Gedung Cerutu di jalan Rajawali no. 5, Surabaya Utara

    Gedung Cerutu

    Gedung Cerutu

  2. Hotel Ibis  di jalan rajawali no.9-11, Surabaya Utara

    Hotel Ibis

    Hotel Ibis

  3. Gedung Show Room Timor Jalan Rajawali No. 18, Surabaya Utara

    Gedung show Room Timor

    Gedung show Room Timor

  4. Perusahaan Perkebunan Negara Jalan rajawali no. 29

    Persahaan Perkebunan Negara

    Gedung Perusahaan Perkebunan Negara

  5. Kantor Tjiwi Kimia Jalan rajawali no. 31-33, Surabaya Utara

    Kantor Tjiwi Kimia

    Kantor Tjiwi Kimia

  6. Gudang Jalan rajawali no. 35, Surabaya Utara

    Gudang

    Gudang

  7. Kantor Perseroaan Terbatas Perkebunan XXIII  Jalan Rajawali No. 44

    Kantor PTPN XIII

    Kantor PTPN XIII

  8. Kantor Corps Cacat Veteran Jalan Rajawali No. 47

    Kantor Korps Cacat Veteran R

    Kantor Korps Cacat Veteran R

Kantor Tjiwi Kimia

Kantor Tjiwi Kimia

Kantor Tjiwi Kimia

Jalan Rajawali No. 31-33, Surabaya Utara

Kantor Tjiwi

Kantor Tjiwi

Sama hal dengan gedung “gudang” yang bangunan berdempetan dengan bangunan Kantor Tjiwi Kimia, kita mendapat nama gedung, gedung Kantor Tjiwi Kimia berdasarkan plakat cagar budaya yang dikeluarkan pemerintah kota surabaya.

Gedung ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, karena memiliki arsitektur bangunan kolonial sebagai penunjang kawasan kota lama, sesuai Surat Keputusan Walikota Surabaya No.188.45/004/402.1.o4/1998 dengan no urut 87

Gudang

gudang

Gudang

Jalan Rajawali no. 35, Surabaya Utara

Plakat Gudang

Plakat Gudang

Bangunan berwarna putih dalam plakat cagar budaya disebut Gudang. Kami belum mendapat informasi seputar sejarah gedung ini.

Gedung ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, karena memiliki arsitektur bangunan kolonial sebagai penunjang kawasan kota lama, sesuai SK walikota Surabaya No.188.45/004/402.1.o4/1998 dengan no urut 44

Asuransi Jiwa Indonesia

Gedung Asuransi Jiwasrya

Gedung Asuransi JIwasraya

Gedung Asuransi JIwasraya

Jalan Sikatan No 1, Surabaya Utara

Bangunan Gedung Asuransi Jiwasraya merupakan Peninggalan dari Perusahaan Asuransi; Nederlansch Indiesche Levensverzekering en Liffrente Maatschappij atau disingkat dengan NILLMIJ. Perusahaan tersebut merupakan pelopor industri asuransi di Indonesia. Asuransi Jiwasraya sendiri merupakan kelanjutan dari NILLMIJ.

PTPN X sempat mengunakan Bangunan Gedung Asuransi Indonesia hingga tahun 1993, kemudian bangunan ini digunakan kembali oleh asuransi jiwasraya.

Bangunan  ini ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya sesuai Sk Walikota Surabaya No. 188.45/004/402.1.04/1988 dengan no urut no 24.d

Markas Badan Keselamatan Rakyat Kota Surabaya

Markas Badan Keselamatan Rakyat Kota Surabaya

Lokasi Markas BKR Surabaya

Jalan Basuki Rahmad No 119-121, Surabaya Pusat

Prasasti Markas BKR Surabaya

Prasasti Markas BKR Surabaya

Lokasi Perusahaan Daerah Air Minum Rayon III Zona 3 dan Zona 5 ini merupakan Salah situs cagar budaya, di depan kantor terdapat tugu prasasti yang menjelaskan sejarah lokasi ini.

Prasasti tersebut terdapat tulisan seperti ini; Tempat ini dulu merupakan Markas Badan Keselamatan Rakyat Kota Surabaya di bawah pimpinan Sungkona. Markas terus berpindah ke jimerto no 25, kaliasin 80, kemudian ke pregolan 2-4 kena bom dari udara, lalu pindah ke carpentierstraat 70 (jalan suropati) akhirnya keluar kota menjadi markas pertahanan surabaya.

Gardu Penghubung Listrik GKV

Gardu Penghubung Listrik GKV Bentuk Kerucut

Gardu Listrik

Gardu Listrik Berbentuk Kerucut

Jalan TAIS Nasution, Surabaya Pusat

Plakat Gardu Listrik

Plakat Gardu Listrik

Pada masa penjajahan Belanda membangun gardu-gardu listrik di surabaya. Terdapat beberapa gardu listrik peninggalan belanda, salah satunya berada di jalan Tais Nasution, dekat dengan monumen bambu runcing.

Bangunan gardu listrik berbentuk kerucut ini di tetapkan menjadi bangunan cagar budaya sesuai dengan surat keputusan walikota surabaya No. 188.45/363/436.1.2

 

Gedung Setan

Gedung SetanPasar Kupang, Surabaya Barat

Dari kejauhan gedung bercat putihkusam ini terlihat tidak menonjol dengan bentuknya yang gemuk, bentuk bangunan yang berbeda dengan bentuk bangunan di sekitarnya. Gedung tua ini memiliki nama yang cukup menyeramkan, gedung setan. 

Beragam versi menjelaskan asal muasal nama tersebut, salah satu pendapat berasal dari komunitas pecinta sejarah surabaya; komunitas surabaya tempo dulu, nama gedung setan merupakan ungkapan kekaguman warga sekitar  terhadap kemegahan gedung ini.

Gedung dengan dua lantai yang menempati lahan seluas 400 meter persegi ini didirikan semasa penjajahan belanda. Pemilik pertama gedung ini seorang warga belanda bernama J.A middelkoop. Pada tahun 1809 J.A. Middelkoop yang misionaris ini membeli area kupang dari daedlels dan membangun gedung ini. Setelah J.A. Middelkoop meninggal gedung ini berpindah tanggan ke pemilik baru dari etnis tionghoa, Dr. Teng Sioe Hie dan saat ini pemiliknya bernama Teng Kun Gwn atau Gunawan Santoso.

Biarpun Gedung ini memiliki nama menyeramkan dan terkesan tidak berpenghuni, lantaran, terlihat tidak terawat, ternyata gedung ini memiliki penghuni yang padat, bangunan ini dihuni oleh 40 keluarga atau 150 jiwa. Kebanyakan mereka adalah keturunan Tionghoa-Jawa. Mereka di tampung di gedung ini, karena menjadi korban kekerasan rasial pada tahun 1965. Teng Kun Gwan pemilik gedung ini menyediakan bangunanya sebagai tempat perlindungan. Penghuni gedung ini tinggal diruang yang sudah diberi sekat-sekat. Adapun lantai dua digunakan sebagai Gereja Pantekosta.

Bagi anda yang berminat mengunjungi gedung ini, anda tinggal mengarahkan perjalan anda menuju Kupang, atau pasar kupang. Jangan masuk ke fly over pasar kembang, anda akan kelewatan. Letak gedung ini berada di pinggir jalan disamping fly over pasar kembang, dari kejauhan bangunan gedung ini sudah terlihat mencolok.